Tampilkan postingan dengan label cell biology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cell biology. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2011

SISTEM ENDOKRIN

0 komentar
Aktivitas berbagai sel dan organ didalam tubuh diatur oleh dua sistem pengontrol

yaitu sistem endokrin dan sistem saraf. Sistem endokrin mengontrol dengan cara mensekresikan hormon yaitu suatu zat kimia, dalam jumlah kecil dalam darah. Kata hormon berasal dari bahasa yunani “hormao” yang berarti merangsang.
Melalui sirkulasi darah hormon mencapai sel-sel target (sel yang dituju) yang biasanya terletak jauh dari kelenjar endokrin. Pada sel-sel target ini terdapat reseptor-reseptor yang dapat mengikat jenis hormon tertentu secara selektif, pengikat ini mencetuskan reaksi kimia tertentu yang dapat merubah metabolisme dan fungsi sel tersebut. Dengan demikian biasanya efek kerja hormon agak lambat dibanding impuls saraf. Efek kerja hormon biasanya tampak setelah beberapa menit atau jam setelah hormon disekresikan.
Walaupun kerja hormon lebih lambat dibanding saraf , hormon dapat mengatur proses-proses yang lebih luas ketimbang saraf, misalnya hormon dapat mengontrol komposisi cairan tubuh, reproduksi, pertumbuhan, perkembangan, dan metabolisme. Hormon juga berperan dalam pertahanan tubuh terhadap hal-hal yang bersifat darurat seperti kelaparan, kehausan, stres, infeksi dan peradangan.
Beberapa organ tubuh berada dibawah kendali baik saraf maupun hormon, misalnya kegiatan denyut jantung berada dibawah kontrol saraf autonom (simphatis /parasimphatis), juga berada dibawah pengaruh hormon adrenalin.
Kelenjar Endokrin
Kelenjar endokrin adalah suatu kelenjar yang tidak memiliki saluran, mensekresikan suatu zat kimia yang disebut hormon ke dalam cairan interestiel di sekeliling sel kelenjar, kemudian cairan ini masuk kedalam peredaran darah untuk mempengaruhi sel atau organ tertentu yang letaknya jauh dari kelenjar endokrin.
Kelenjar Parenkrin
Kelenjar parenkrin adalah kelenjar yang atas suatu rangsang/impuls mensekresi suatu zat kimia yaitu lokal hormon ke cairan interestiel, mencapai ke sel-sel sekitarnya. Zat-zat kimia yang disekresikan ini biasanya cepat sekali dinonaktifkan oleh enzim-enzim tertentu dan tidak masuk ke pembuluh darah. Melihat definisi tersebut, neurotransmitter juga dapat dikategorikan sebagai parenkrin (lokal hormon). Bila lokal hormon tersebut juga mempengaruhi sel kelenjarnya sendiri maka sel-selnya disebut autokrin. Contoh dari lokal hormon adalah prostaglandin yang berupa suatu asam lemak tak jenuh.

Kamis, 03 Februari 2011

Mengenal Kloroplas

4 komentar

Struktur dan ultrastruktur kloroplas

Kloroplas terdapat pada sel-sel tumbuhan eukariotik, sel tumbuhan tinggi berisi 50-200 kloroplas. Kloroplas dapat dilihat dengan mikroskop biasa. Panjang antara 5 – 10 µm. pada tumbuhan rendah bentuknya sangat bervariasi, euglena gracillis memiliki 10 buah kloroplas setiap sel, pada chlamidomonas hanya sebuah berbentuk mangkuk, spirogyra mempunyai kloroplas seperti pita yang letaknya spiral sepanjang sel.

Tata nama dan kompartemen dalam kloroplas

Kloroplas memilki membran rangkap seperti pada mitokondria. Membran dalam dan membran luar dipisahkan oleh ruang antarmembran. Membran dalam memiliki hubungan dengan kompleks membran dalam kloroplas.

Kompleks membran (membran internal) sebagian besar memiliki bentuk seperti kantung pipih yang disebut tilakoid. Susunan /tumpukan tilakoid disebut granum, satu tilakoid dari granum disebut tilakoid granum. Sebagian tilakoid melebar kedalam stroma disebut tilakoid stroma. Tilakoid yang menghubungkan antar grana disebut “fret”. Pada beberapa literatur tidak ditemukan istilah tilakoid grana. Fret umumnya disebut lamela grana, bagian dalam tilakoid disebut lokulus.

Dengan adanya kompleks membran pada kloroplas terdapat tiga kompartemen yang terpisah yaitu ruang antarmembran lokulus dan stroma. Dari banyak penelitian menunjukkan bahwa lokulus merupakan ruangan yang terpisah dari ruang atar membran.

Membran luar

Membran luar kloroplas tumbuhan tinggi dipisahkan dari membran dalam dengan ruang antarmembran sejauh 10nm. Membran ini permeabel terhadap persenyawaan yang berat molekulnya rrendah seperti nukleotida, fosfat organik, derifat yang mengandung fosfat, asam karboksilat dan sukrosa. Jadi ruang antarmembran merupakan jalan masuk bebas untuk segala macam molekul makanan dari sitosol. Dilihat dari permeabilitasnya fungsi dari membran luar kloroplas dan mitokondria mempunyai persamaan.

Membran dalam

Membran dalam mempunyai sebagai “barrier” antara sitosol dan stroma kloroplas yang bersifat impermeabel terhadap sukrosa, sorbitol dan berbagai anion (misalnya di dalam trikarboksilat, fosfat, dan persenyawaan seperti nukleotida dan gula fosfat).
Meskipun impermeabel terhadap berbagai persenyawaan, membran dalam permeable terhadap CO2 dan asm mono karboksilat tertentu (misalnya asam asetat, asam gliserat, asam glikolat) dan kurang permeabel pada asam amino.

Seperti membran dalam mitokondria, membran dalam kloroplas memiliki “carrier” spesifik untuk mentranslokasi berbagai bahan metabolik yang penting seperti fosfat, fosfogliseerat, dehidroaseton fosfat, dikarboksilat, dan ATP.

Sistem membran interenal

Membran internal merupakan jaringan membran yang kompleks pada stroma dan sukar digambarkan seperti keadaan sebenarnya. Tapi bagaimanapun bentuk fisik yang sebenaranya, telah diketahui bahwa membran tilakoid berisi kelengkapan enzim yang komplit untuk melakukan reaksi terang pada fotosintesis. Disinilah letaknya klorofil pada organel kloroplas. Selain itu pada membran tilakoid terdapat “carrier” elektron dan faktor penggandeng (coupling facttors) transpor elektron pada waktu fosforilasi.
Gambar-gambar mikroskop elektron dari sistem membran internal menunjukkan adanya struktur yang serupa dengan F1 pada mitokondria yang berisi faktor penggandeng dengan ATPase

Rabu, 02 Februari 2011

Mengenal Mitokondria

0 komentar

Mitokondria (mito – benang, chondrion = granula) merupakan organel sel eukariotik yang berbentuk memanjang atau granula. Membran mitokondria terdiri atas liupoprotein dan mitokondria berisi berbagai enzim dan koenzim yang diperlukan untuk metabolisme energi. Pada mitokondria juga terdapat DNA khusus dan ribosom.

Mitokondria pertama kali diobservasi oleh Kolliker pada tahun 1880 pada otot serangga. Ia menemukan bahwa granula tersebut dapat mengembang dalam air. Pada tahun 1882 Fleming memberi nama fila dan pada tahun 1890 Altman memberi nama bioblas. Nama mitokondria berasal dari Benda (1897-1898). Tahun 1948 hogeboom melihat bahwa mitokondria sebagai tempat(lokasi) respirasi sel. Nass (1963) membuktikan bahwa didalam mitokondria terdapat DNA.

Morfologi dan Penyebaran Mitokondria

Mitokondria dapat diamati dengan mikroskop biasa. Ukurannya kira-kira sebesar bakteri panjang 3 µm dan lebar 0,5-1 µm. mitokondria seperti ini terdapat pada sel-sel ginjal, hati, dan pankreas. Pada jaringan lain ditemukan mitokondria dalam bentuk dan ukurang yang bervariasi.

Letak mitokondria didalam sel biasanya tidak teratur, namun beberapa diantaranya mengikuti pola tertentu. Contoh mitokondria yang disebut terakhir terdapat pada sel-sel otot lurik, letaknya tersusun diantara serabut-serabut kontraktil otot. Contoh lain adalahmitokondria pada sel sperma yng tersusun pada bagian ekor spermatozoa. Letak mitokondria seperti ini karena diperlukan sebagai sumber energi untuk kontraksi.

Jumlah mitokondria pada sel sangat bervariasi untuk setiap tipe sel, berkisar antara 0-100.000. sejenis algae yang tidak berwarna leucothrix dan nitreo scilla tidak mempunyai mitokondria, spermatozoa tertentu dan sejenis flagellata (chromulina) hanya mempunyai satu mitokondria si setiap sel. Pada telur beberapa landak laut dan sejenis amoeba Chaos chaos tiap sel berisi lebih dari 500.000 buah mitokondria. Pada umumnya ada hubungan antara jumlah mitokondria dengan kebutuhan metabolik pada sel tapi disamping itu ultrastruktur dari mitokondria juga menunjukkan pula dengan kebutuhan metabolik.

Mitokondria mempunyai sifat plastis (plasticity), karena itu bentuknya dapat berubah. Sifat plastis terutama terdapat pada mitokondria yang tedapat bebas pada sitosol. Pada otot lurik yang tidak bebas plasitisitasnya berklurang. Plastisitas dan gerakan dalam sel memudahkan penyebaran didalam sel yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi. Pada otot lurik yang mempunyai sifat kontraktil, energi yang dibutuhkan lebih ditujukan untuk keperluan kontraksi, katrena itu letak nya pun berada di antara serabut-serabut kontraktil.

Struktur Ultra Mitokondria

Mitokondria memiliki dua lapis membean yang memiliki kesamaan dengan membran unit sistem membran lain. Kedua membran tersebut adalah membran luar yang berbatasan dengan sitosol dan membran dalam yang berbatasan dengan matrix. Diantara membran luar dan membran dalam terdapat ruang antarmembran. Membran dalam membentuk lipatan-lipatan (lekukan) ke sebelah dalam yang disebut kristae (krista). Membran luar dan membran dalam pada mitokondria tertentu memiliki hubungan yang longgar. Karena adanya kristae membran dalam ukurannya lebih luas dari membran luar. Disebelah dalam membran dalam terdapat matrix. Pada penglihatan dengan pembesaran lemah matrix kelihatan bening dan amorf. Pada pembesaran kuat terlihat adanya partikel-partikel. Partikel-partikel tersebut berupa granula, ribosom atau poliribosom dan benang-benag DNA.

Bentuk lamelar dari kristae juga bervariasi. Pada mitokondria tipe sel tertentu memiliki bentuk tubular. Misalnya terdapat pada hampir semua protozoa dan dari berbagai sel mamalia yang menghasilkan steroid. Pada beberapa jenis amoeba tubulus mitokondria susunannya sangat teratur. Pada jaringan seperti kelenjar adrenal yang mensekresikan steroid, kristae sering mempunyai bentuk vesikular.

Penjelasan diatas merupakan beberapa contoh dari banyak sekali variasi morfologi kristae. Mengapa terdapat berbagai variasi? Belum jelas jawabannya, tetapi tidak dapat disangkan bahwa kristae mempunyai fungsi untuk memperluas permukaan membran.

Semoga bermanfaat

Selasa, 01 Februari 2011

Retikulum Endoplasma (RE)

7 komentar

Pengamatan terhadap retikulum endoplasma baru dapat dilakukan setelah ada mikroskop elektron pada tahun 1950. Beberapa tahun kemudian baru diketahui bahwa retikulum endoplasma mempunyai berbagai bentuk. Retikulum endoplasma merupakan organel sel yang tidak statis dan dapat dianggap sebagai salah satu komponen dari suatu sistem membran didalam sel yang terdiri atas berbagai organel. Jaringan sistem membran ini dalam bahasa inggris disebut cytocavitary network yang didalamnya termasuk mitokondria, lisosom, badan golgi, badan mikro, dan membran inti. Dengan adanya sistem tadi sitoplasma dibagi dalam dua kopartemen yaitu sitoplasma ekstra organel (sitosol) dan rongga-rongga intra membran (lumen). Jadi membran yang membangun sistem itu satu permukaan menghadap sitoplasma ekstra organel (sitosol) dan permukaan lain menghadap lumen dari sistem membran. Hal ini penting untuk diketahui sebagai dasar untuk membicarakan sifat-sifat membran.
Telah ditemukan bahwa retikulum endoplasma mempunyai hubungan dengan membran plasma dan membran luar dari selaput inti, sedangkan organel-organel lain tidak mempunyai hubungan langsung tetapi dapat terjadi interaksi secara langsung atau tidak. Jadi meskipun retikulum endoplasma merupakan organel tersendiri tapi struktur dan fungsinya memiliki hubungan dan tergantung pada bagian-bagian lain dari jaringan cytocavitary. Dengan demikian pada pembicaraan organel yang lain akan selalu menyangkut pembahasan materi ini.
Sifat umum retikulum endoplasma
Sistem membran yang dinamik membantu transpor di dalam sel eukariotik. Jaringan cytocavitary khususnya retikulum endoplasma mencegah stagnasi penyebaran enzim untuk aktifitas katabolik dan anabolik. Substrat yang vital dapat mencapai bagian dalam sel dengan cepat dengan cara fusi dan gerakan dari membran. Demikian juga dengan bahan yang disintesa di dalam sel dengan cara yang sama dapat cepat diangkut ke permukaan sel.
Bentuk mikroskopis retikulum endoplasma
Retikulum endoplasma memiliki fungsi yang bervariasi, hal ini menyebabkan adanya variasi secara morfologis. Dari pengamatan dengan mikroskop elektron pada sel hati terlihat adanya dua macam membran yang menyebabkan ada dua macam retikulum endoplasma. Membran yang mempunyai partikel-partikel ribosom dipermukaannya terlihat kasar dan membentuk retikulum endoplasma kasar (REK) dan membran yang tidak mempunyai ribosom terlihat halus disebut retikulum endoplasma halus (REH). REK biasa juga disebut sebagai retikulum endoplasma granular dan REH disebut retikulum endoplasma agranular.
Retikulum endoplasma kasar dan halus
REK mempunyai fungsi dalam sintesa protein didalam sel terutama sintesa protein sekresi dan protein untuk komponen retikulum endoplasma itu sendiri. REH mempunyai fungsi sebagai tempat reaksi sintesis maupun untuk modifikasi bahan-bahan yang mempunyai berat molekul rendah.
Adanya REK dan REH pada sel hati menunjukkan bahwa hati mempunyai berbagai peran dalam metabolisme. Memang telah diketahui bahwa reaksi-reaksi metabolisme antara (intermediary metabolism) terjadi didalam hati. Beberapa reaksi terjadi dalam dua tahap yaitu REK kemudian REH.
Tipe sel yang berbeda mempunyai rasio REK dan REH yang berbeda. Sel yang mempunyai peran dalam sintesis protein untuk bahan sekresi (secretory), REK merupakan bagian utama dari retikulum endoplasma pada sel tersebut. Sel yang mempunyai fungsi untuk sekresi steroid seperti pada sel-sel adrenal bagian korteks mempunyai retikulum endoplasma yang sebagian besar terdiri dari REH. Sintesis kolesterol dan reaksi-reaksi kimia untuk memodifikasi steroid menjadi progesteron dan deoksikortikosteron terjadi pada membran REH. Sel lain yang berisi banyak REH ialah sel-sel pigmen pada retina, Sel-sel pada kelenjar sebaseus, sel-sel interestial, pada testes dan korpus luteum.
Semoga bermanfaat.

Kamis, 12 Agustus 2010

Protein GM130 Pada Badan Golgi Mengatur Morfologi Dan Fungsi Dari Sentrosom

1 komentar

Tulisan ini berisi tentang penelitian yang dilakukan pada aparatus golgi, lebih spesifik lagi yaitu pada salah satu jenis protein yang ada padanya, yakni protein GM130. Peneliti berusaha menggali informasi mengenai kaitan antar protein ini dengan bentuk dan fungsi sentrosom pada sel.
Sentriol pada sel hewan dapat dibentuk melalui dua jalur, melalui jalur template-based dan de novo formation. Pembentukan sentrosom terjadinya pada saat sel pada fase sintesis. Fase-fase pembentukan pada sel sangat penting artinya untuk kelangsungan sel, karena ia nantinya akan menentukan berapa sel hasil pembelahan yang dilakukan, kearahmana kromosom harus berpindah, dan juga bagaimana proses pembagian tiap set kromosom.
Berdasarkan penelitian ada bukti kuat fase-fase pembentukan sentrosom tersebut diatur oleh badan golgi, dalam hal ini protein dari golgi. Peneliti membuktikan bahwa protein GRASP65 dan GM130 yang terdapat pada badan golgi berperan dalam proses pembentukan benang-benang spindel dan juga perkembangan sel. Berkurangnya jumlah protein ini menyebabkan benang spindel arahnya menyimpang dari jalur seharusnya, kegagalan menangkap kromosom, dan kematian sel.
Protein GM130 berbentuk seperti kumparan yang melilit bagian cis dari badan golgi, protein ini juga sekaligus mengatur keberadaan protein GRASP65. Berdasarkan penelitian sebelumnya telah diketahui pula protein GM130 juga berperan pada proses fragmentasi badan golgi pada saat pembelahan sel, transportasi antara retikulum endoplasma - badan golgi, pembentukan pita badan golgi, dan migrasi sel.
Penelitian ini memberikan bukti bahwa protein GM130 pada badan golgi mengatur proses asosiasi antara protein GRASP65 dengan badan golgi yang diperlukan pada proses pembentukan gelendong pada kedua kutub sel pada proses pembelahan sel. Namun proteinGM130 terbukti tidak mengatur secara langsung proses tersebut. lebih kusus peran protein GM130 adalah untuk mengatur morfologi kromosom dan juga fungsinya sebelum sel memasuki tahapan bembelahan sel.
Protein GM130 diperlukan untuk pembentukan kedua jenis sentromer yang normal pada saat sel berada pada fase interfase maupun pada saat pembelahan sel. Temuan lainnya adalah bahwa protein GM130 juga berperan dalam siklus sel, organisasi sentrosom maupun fungsi dari sentrosom. Dan proses-proses tersebut juga dibantu oleh kehadiran protein GRASP65.
Selain efek pada sentrosom, peneliti menemukan bahwa berkurang/rusaknya protein GM130 pada badan golgi mengakibatkan gangguan pada sistem organisasi mikrotubulus, dan juga gangguan pada proses migrasi sel. Menurut peneliti peristiwa ini terjadi sebagai akibat konsekuensi dari gagalnya pembentukan sentrosom pada fase interfase, dan juga karena protein GM130 berperan dalam mengkoordinasi mikrotubulus dan juga migrasi sel.

Sabtu, 31 Juli 2010

Insulin

0 komentar

Insulin adalah hormon yang mengendalikan gula darah. Tubuh menyerap mayoritas karohidrat sebagai glukosa (gula darah). Dengan meningkatnya gula darah setelah makan, pankreas melepaskan Insulin yang membantu membawa gula darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai bahan bakar atau disimpan sebagai lemak apabila kelebihan. Tampa bantuan hormone, kadar gula darah akan mengalami fluktuasi yang besar. Kadar gula darah akan segera meningkat sesudah makan, dan sebaliknya jika tidak ada asupan makanan pada priode tertentu, kadar gula darah akan turun sangat rendah. Untuk mencegah terjadinya fluktuasi yang membahayakan tubuh akan meregulasi glukosa darah dengan menggunakan hormone insulin. Hormone insulin disekresikan oleh sel-sel beta pancreas apabila kadar gula darah meninggi (hiperglikemia), yang biasanya terjadi sesudah makan. Peningkatan kadar gula darah ini akan merangsang sekresi insulin dari sel-sel β pulau langerhans pancreas. Sekresi insulin ini berlangsung dalam dua fase, pada fase pertama kadar insulin melonjak tinggi seketika. Hal ini terjadi 10 menit setelah kenaikan kadar gula darah, karena ada simpanan insulin dalam granula. Kemudian terjadi fase kedua yang bersifat lambat berlangsung selama lebih dari 10 menit sampai 2 jam. Dalam jam pertama seseudah makan, gula darah meningkat sampai 160 mg%, dan kemudian menurun lagi berkat pengaruh insulin, sehingga 2 jam sesudah makan kadar gula darah normal kembali yakni 160 mg%. insulin akan merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan dan kemudian memecahnya menjadi energi, penyimpanan dalam bentukglikogen dan mengubahnya lemak. Dengan proses tersebut kadar gula darah akan menurun dan kembali normal. Sebaliknya bila kadar gula darah rendah, hormone glukagen yang dihasilkan sel-sel α pancreas akan menstimulasi sintesa glukosa dari asam amino yang mengebabkan terlepasnya glikogen dari hepar, yang akan meningkatkan kadar gula darah. Jadi aktivitas hormone insulin dan glikagon berlawanan satu sama lain

Selasa, 27 Juli 2010

pertanyaan seputar sistem pencernaan

0 komentar
a) Mengapa pada percobaan di atas harus menggunakan usus ikan yang masih segar?
Jawab
Agar proses metabolisme masih berlangsung dan enzimnya pun masih aktif (tidak mati)
b) Waktu menghaluskan usus ikan kita menggunakan beberapa tetes toluen, mengapa?
Jawab
fungsi toluene sebagai antiseptic yaitu menghambat pertumbuhan mikroba sehingga tidak terjadi pembusukan pada ekstrak yang dibuat sebagai desinfektan
c) Ciri-ciri apa yang dapat dikemukakan bahwa dalam percobaan tersebut diatas ada enzim amilase, maltosa (invertosa), amilum dan tripsin pada usus ikan mas?
Jawab
Ciri bahwa dalam percobaan itu terdapat enzim amilse dan tripsin serta zat maltosa dan glukosa yaitu dapat dilihat dari indikator warnanya yang menandakan bahwa adanya reaksi yang terjadi .
Amylase : perubahan warna dari biru tua menjadi hijau bening setelag ditetesi benedict
Maltase : peubahan warna dari biru kehitaman menjadi biru kehijauan ditetesi benedict
Amilum : perubahan warna setelah ditetesi iodium dari warna kuning menjadi biru
Trirsin : perubahan warna dari ungu menjadi coklat setelah ditetesi larutan biuret
d) Apa pengaruh cairan empedu terhadap minyak? Mengapa proses ini penting dalam pencernaan lemak?
Jawab
Di dalam empedu terdapat cairan empedu yang berfungsi dalam proses pengemulsian lemak. Pengaruh cairan empedu terhadap minyak akan mengemulsi (sebagai emulgator). Prosesnya pada dasarnya akan memecahkan ikatan lemak pada minyak hingga menjadi bagian terkecil dan larut.
e) Bagaimana terjadinya vakuola makanan?
Jawab
Vakuola makanan terjadi apabila makanan masuk ke dalam tubuh melalui cyclostoma Vakuola makanan tersebut terjadi apabila ada makanan yang telah ditangkap oleh silia, yang kemudian dinding sel membentuk invaginasi, sehingga makanan masuk kedalam sel.

f) Apakah vakuola makanan itu bergerak?
Jawab
Ya, vakuola makanan bergerak searah jarum jam.
g) Jika bergerak, kemana arah dan berapa lama sampai terjadi defekasi?
Jawab
Vakuola makanan bergerak searah jarum jam. dan bergerak cepat sehingga terjadi defekasi.
h) Pencernaan makanan pada vakuola memerlukan enzim pada PH tertentu. Apa yang menjadi ciri bahwa ada perubahan PH? Jelaskan dengan menglihat warna pada congo red?
Jawab
Adanya perubahan pH dapat dilihat oleh adanya perubahan pH pada vakuola makanan. Mula-mula, vakuola makanan berwarna merah (hal ini menunjukan bahwa vakuola makanan berada dalam suasana asam). Setelah makanan masuk ke vakuola makanan , warna vakuola makanan berubah menjadi biru (suasana vakuola makanan menjadi basa). Perubahan warna ini menjadi indikasi adanya proses pencernaan makanan pada Paramecium.

Rabu, 29 Juli 2009

metabolisme bakteri

0 komentar
Metabolism bakteri
Dalam kehidupan, mahluk hidup memerlukan energy yang diperoleh dari proses metabolisme. Metabolisme terjadi pada semua mahluk hidup termasuk kehidupan mikroba. Pada hewan atau tumbuhan yang berderajat tinggi enzim yang di sediakan untuk keperluan metabolisme reatif stabil, selama terjadi perkembangan individu memang terjadi perubahan susunan enzim, akan tetapi pada pergantian lingkungan perubahan itu sangat kecil. Metabolisme merupakan serentetan reaksi kimia yang terjadi dalam sel hidup (Bibiana W. Lay, 1992 dalam Darkuni, 2001). Dalam metabolisme ada dua fase yaitu katabolisme dan anabolisme. Metabolime ini selalu terjadi dalam sel hidup karena di dalam sel hidup terdapat enzim yang diperlukan untuk membantu berbagai reaksi kimia yang terjadi. Suatu proses reaksi kimia yang terjadi dapat menghasilkan energi dan dapat pula memerlukan energi untuk membantu terjadinya reaksi tersebut. Menurut Darkuni (2001) bila dalam suatu reaksi menghasilkan energi maka disebut reaksi eksergonik, dan apabila untuk dapat berlangsungnya suatu reaksi diperlukan energi, reaksi ini disebut reaksi endergonik. Kegiatan metabolisme meliputi proses perubahan yang dilakukan untuk sederetan reaksi enzim yang berurutan. Secara singkat kegiatan proses ini disebut tansformasi zat. Hasil kegiatan ini akan dihasilkan nutrien sederhana seperti glukosa, asam lemak berantai panjang atau senyawa-senyawa aromatik yang dapat digunakan sebagai bahan untuk proses neosintetik bahan sel. Menurut Anonimous (2008) enzim sangat di pengaruhioleh beberapa hal yaitu: konsentrasi enzim, konsentrasi substrat, pH, suhu,setiap enzim berfungsi optimal pada pH dan temperatur tertentu. Suhu yang sangat rendah dapat menghentikan aktivitas enzim tetapi tidak menghancurkannya. Aktivitas enzim diatur melalui 2 cara: pengendalian katalis secara langsung pengendalian genetic Proses metabolisme akan menghasilkan hasil metabolisme yang berfungsi menghasilkan sub satuan makromolekul dari hasil metabolisme yang bergun sebagai penyediaan tahap awal bagi komponen-komponen sel menghasilkan dan menyediakan energi yang dihasilkan dari ATP lewat ADP dengan fosfat. Energi ini sangat penting untuk kegiatan proses lain yang dalam prosesnya hanya bisa berlagsung kalau tersedia energi.
tidak menemukan yang anda cari? coba pencarian google!