Tampilkan postingan dengan label bio medicine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bio medicine. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Januari 2011

Sistem Skelet (Rangka) Pada Manusia

0 komentar

Rangka manusia terdiri dari 206 tulang dan dibagi menjadi axial skeleton dan appendicular skeleton.
1. Axial skeleton (rangka poros, 80 tulang) yaitu costa, sternum, tulang-tulang kepala, dan tulang-tulang vertebrae, tulang-tulang ini membentuk sumbu tubuh.
2. Apendicular skeleton (rangka tambahan, 126 tulang)yaitu tulang-tulang gelang bahu, ekstremis atas, gelang panggul, dan ekstremis bawah.
Untuk lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
1. Axial Skeleton
A. Tulang-tulang kepala (tengkorak), terdiri dari
Tulang –tulang tempurung, melindungi otak, organ pendengaran dan penglihatan, yaitu Os. frontalis (t. dahi) 1, Os. Parietalis (t. ubun-ubun) 2, Os. Temporalis (t. pelipis) 2, Os. Occipitalis (t. kepala belakang)1, Os. Spheinodalis (t. baji) 1, Os. Ethmoidalis (t. tapis) 1
Tulang muka, pemberi bentuk wajah terdiri dari Os. Maxillaris (t. rahang atas) 2, Os. nasalis (t. hidung) 2, Os. zygomaticus (t. pipi) 2, Os. Lacrimalis (t. air mata) 2, Os. Palatinus (t. langit-langit) 2 , Os. Concha nasalis inferior 2, Os. Mandibula (t rahang bawah) 1, Os. Vomer 1
Sewaktu lahir proses penulangan belum sempurna, beberapa tulang masih dalam bentuk membran fibrosa sehingga membentuk bagian lunak dibagian kepala yang disebut fontanel.
1. Fontanel anterior (1), berbentuk belah ketupat, terletak antara 2 tulang parietal dan 2 tulang frontal (pada bayi ada 2 tulang frontal). Fontanel ini menutup setelah bayi berumur 18 bulan.
2. Fontanel posterior (1), berbentuk segitiga terletak diantara 2 tulang parietal dan 1 tulang occipital, menutup setelah bayi berumur 2-4 bulan.
3. Fontanel sphenoidalis (2), terletak dibelakang os. Temporalis, menutup setelah bayi 2-4 bulan
4. Fontanel matoideus (2), terletak dibelakang os. Temporalis, menutup setelah bayi berumur 2-12 bulan.
Adanya fontanel ini sangat penting karena memungkinkan kepala bayi berubah bentuk sewaktu proses persalinan untuk menyesuaikan dengan jalan lahir panggul ibu. Juga memungkinkan perkembangan otak yang cepat pada bayi.
Bila prosessus palatin pada tulang maxilla tidak bersatu setelah lahir, maka akan terbentuk palatin sumbing (langit-langit sumbing), sering disertai bibir sumbing.
Sinus para nasalis adalah rongga yang terletak didalam tulang, yaitu sinus frontalis, sphenoidaus, ethmoidaus dan maxillaris. Rongga-rongga ini dialpisi oleh membran mukosa dan terhubung dengan rongga hidung, fungsinya adalah untuk menghasilkan lendir yang membantu dalam membasahi udara pernafasan, meringankan berat kepala, dan membentuk rongga resonansi suara. Peradangan yang terjadi pada sinus-sinus ini biasa disebut sinusitis.
B. Columna vertebralis
Terdiri dari jajaran vertebrae (26 pada orang dewasa, 33 pada bayi). Diantara tulang-tulang vertebrae terdapat discus intervertebralis yang terdiri dari tulang rawan fibrosa. Discus ini membentuk sendi yang kuat dan elastis, memungkinkan columna vertebralis bergerak ke segala arah. Diantara tulang vertebtrae terdapat foramen intervertebrae, melalui lubang-lubang inilah saraf perifer keluar dari vertebralis. Didalam columna vertebralis terdapat medulla spinalis yang merupakan bagian dari susunan saraf pusat.
C. Sternum dan costa
Sternum (tulang dada) terdiri dari manubrium sterni diatas corpus (badan) ditengah dan prosessus xyphoideus (taju pedang) di bawah. Sternum bersendi dengan tulang selangka (clavicula) dan 7 tulang costa teratas. prosessus xyphoideus terdiri dari tulang rawan dan akan menjadi tulang setelah 40 tahun. Karena terdiri dari sumsum merah dan mudah dicapai sternum sering dijadikan tempat pengambilan sumsum tulang pada pemeriksaan berbagai penyakit darah (biopsi sumsum tulang)
Costa (iga) terdiri dari 12 pasang tulang, costa 1-10 mempunyai tulang rawan, yang disebut tulang rawan costa. Costa 1-7 disebut costa sejati (vera) karena melekat langsung dengan sternum sedangkan costa 8-12 tidak melekat pada sternum sehingga disebut costa palsu (spuria). Costa 8-10 melekat pada costa ke-7 disebut costa vertebrachondral dan costa 11-12 disebut costa melayang. Ruang antara costa disebut intercosta diisi oleh otot dan pembuluh darah.
2. Apendicular Skeleton
A. Gelang bahu
Ada 2, kanan dan kiri, masing-masing terdiri dari tulang clavicula (selangka) dan scapula (belikat). Clavicula bersendi dengan manubrium sterni, sedangkan scapula dibelakang bergantung bebas melekat pada otot punggung. Ujung lateralnya bersendi dengan clavicula dan humerus (tulang lengan atas).
B. Ekstremitas atas
Ada 2 dikanan dan kiri, masing-masing terdiri dari tulang humerus, tulang ulna, tulang radius, tulang carpalia, tulang metacarpalia,dan tulang phalanges.
C. Gelang panggul
Terdiri dari 2 tulang coxae (t. pinggul) dikanan dan kiri. Gelang panggul sangat stabil yang berfungsi untuk menahan berat tubuh. Gelang panggul dibelakang bersendi denagan sacrum, didepan coxae bersendi dengan sesamanya pada simpisis pubis, sehingga terbentuklah suatu rongga yang menyerupai baskom disebut panggul. Panggul sendiri dibagi menjadi panggul besar (pelvis mayor) disebelah atas dan panggul kecil disebelah bawah (pelvis minor) disebelah bawah dengan garis batas sebelah belakang yaitu promontorium (sacrum bagian atas) sebelah samping garis innominata dan sebelah depan simpisis pubbis
D. Ekstremitas bawah
Terdapat disebelah kanan dan kiri yang terdiri dari tulang femur, tulang patella, tulang tibia, tulang fibula, tulang tarsalia, tulang metatarsus, dan tulang phalanges. Telpak kaki manusia melengkung dan tidak kaku sehingga berfungsi sebagai pegas sewaktu berjalan. Kalau ligamen-ligamen yang mempertahankan tulang-tulang telapak kaki melemah, lengkungan telapak kaki berkurang disebut telapak datar.
Semoga bermanfaat

Minggu, 30 Januari 2011

Fungsi Otak Yang Menakjubkan

0 komentar

Fungsi otak adalah mencakup belajar, ingatan, pertimbangan, bahasa, dll. Fisiologi fungsi-fungsi tersebut masih sangat kabur dan sulit dipelajari karena beberapa fungsi ini hanya terdapat pada manusia, sedangkan studi eksperimental pada manusia sangat dibatasi oleh moral dan hukum.
Beberapa fungsi utama otak adalah sebagai berikut:
1. Belajar
- Beberapa stimulus (rangsang) yang penting akan membangkitkan seseorang yang berkepentingan. Contoh: seorang ibu dapat tidur pulas pada ruangan yang ribut tetapi akan segera bangun jika bayinya menangis.
- Seseorang yang memperhatikan sesuatu akan mengabaikan stimulus lainnya.Contoh: tidak mendengar panggilan seseorang ketika sedang asik membaca komik. Jadi faktor perhatian sangat pentingh dalam berhasil tidaknya proses belajar.
- Condition reflex, contoh klasik adalah eksperimen pavlov. Suatu bel dibunyikan sebelum daging diberikan pada seekor anjing. Setelah dilakukan berulang-ulang maka bunyi bel akan menyebabkan sianjing akan mengeluarkan liurnya. Para pendidik mengembangkan condition reflex dengan jenis lain, yang berupa pujian (ganjaran) ataupun hukuman. Misalnya seseorang yang diperintahkan untuk melompat setinggi mungkin dan yang tertinggi mendapatkan hadiah. Hal ini sangat penting untuk suksesnya proses belajar. Kejadian hakiki dari conditional reflex adalah terjadinya jalur-jalur hubungan fungsional didalam sistem saraf. Pada eksperimen pavlov terjadi hubungan antara daerah –daerah oendengaran di otak dengan pusat-pusat otonom yang mengatur keluarnya air ludah.
2. Ingatan (Memory)
a. ingatan jangka pendek, merupakan proses memanggil kembali kedalam kesadaran pikiran-pikiran yang telah berlangsung beberapa saat yang lalu. Suatu teori tentang ingatan baru ini adalah terdapat suatu sirkuit impuls yang berputar-putar terus diantara neuron 1 ke neuron 2, ke neuron 3, ke neuron 4, ke neuron 5 dan kembali lagi ke neuron 1, dan seterusnya sehingga bila sekali dinyalakan maka impuls akan menjalar terus berjam-jam sampai berhari-hari. Ingatan baru mudah terganggu oleh berbagai gangguan otak misalnya pada geger otak, sseorang tidak bisa mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa saat sebelum geger otak terjadi.
b. ingatan jangka panjang, ialah suatu igatan yang mencakup pikiran /peristiwa yang terjadi berbulan-bulan atau bertahun-tahun yang lalu. Ingatan lama sangat stabil dapat bertahan walaupun seseorang telah mengalami geger otak ataupun degenerasi otak misalnya pada orang tua yang telah pikun, masih dapat mengingat peristiwa masa kanak-kanaknya, ingatan lama diduga disimpan sebagai perubahan-perubahan biokimiawi dalam sel-sel saraf, yaitu perubahan sintesa protein dan protein-protein ini bisa merubah (memperlancar) transmisi impuls pada sinaps. Dengan demikian jika kita berpikir maka sinaps-sinaps tertentu dalam 1 sirkuit akan dipacu dan impuls akan menjalar sehingga menghasilkan ingatan lama. Secara teoritis kita bisa menerangkan baha dengan mengulang-ulang ingatan baru akan merangsang diproduksinya protein-protein tertentu yang berguna untuk terbentuknya ingatan lama.
Semoga membantu

Sabtu, 29 Januari 2011

Sistem Saraf Otonom

0 komentar

Sistem saraf autonom mensarafi alat-alat dalam (visceral). Seperti sistem saraf somatis sistem saraf otonom juga terdiri dari komponen sensoris (afferent), pusat (medulla spinalis, otak) dan komponen motoris (efferent).
1. Komponen afferent
Pada alat-alat dalam terdapat reseptor-reseptor tekanan (osmoreceptor), reseptor zat kimia (chemoreseptor), reseptor sakit dan reseptor lainnya. Dari reseptor-reseptor ini impuls menjalar melalui serabut sensoris (komponen afferent) saraf otonom menuju medulla spinalis atau otak. Badan sel saraf sensoris terdapat pada ganglion-ganglion spinalis di akar dorsalis. Impuls kemudian keatas melalui tractus-tractus naik (tractus spinothalamicus) menuju cortex otak.
2. Pusat
Di kortex otak inilah impuls diinterpretasikan, hanya sensasi pada sistem saraf otonom lebih bersifat diffus (melebar), misalnya rasa lapar, ingin buang air besar,, mulas dan sering disertai rasa “enek”.
Dari serabut-serabut sensoris impuls juga dapat menuju tanduk lateralis, kemudian bersynaps dengan sel-sel motoris syaraf otonom, dari sini keluar impuls yang menuju effektor yang akan mengaktifkan otot jantung, otot polos dan kelenjar, sehingga terbentuklah suatu refleks.
Secara umum dapat dikatakan rangsang yang kuat dan abnormal dapat menimbulkan impuls yang mencapai korteks otak sehingga menimbulkan sensasi (rasa) pada syaraf otonom. Contohnya makanan yang sangat pedas dapat menimbulkan mulas. Sedangkan rangsangan yang fisiologis dan normal tidak akan mencapai cortex otak, sehingga “tidak dirasakan”. Contohnya peristaltik usus setelah makan.
3. Komponen efferent
Komponen efferent saraf somatis hanya terdiri dari 1 saja yaitu saraf motoris dan efektor yang disarafi adalah otot lurik. Bila neuron motoris mengeluarkan impuls maka otot berkontraksi, sebaliknya bila tidak mengeluarkan impuls maka otot berelaksasi. Komponen afferent saraf otonom ada 2 yaitu simphathis dan para simphathis. Alat-alat viseral tubuh menerima persyaratan dari kedua komponen, baik simphathis dan para simphathis. Kerja simphathis berlawanan dengan parasimphathis.
Berbeda dengan komponen motoris saraf somatis yang terdiri dari satu neuron, komponen motoris saraf otonom selalu terdiri dari 2 neuron, neuron ke I disebut neuron preganglionik, mempunyai badan sel yang terletak diotak atau medulla spinalis, aksonnya bermyelin, keluar dari sistem syaraf pusat sebagai bagian saraf otak atau saraf spinalis, kemudian akan bersinapsis dengan neuron ke II ayng disebut neuron post-ganglionik yang badan selnya terletak di ganglion otonom di luar SSP. Akson (serabut) dari neuron post-ganglion tidak bermyelin dan berakhir pada efektor (otot jantung, otot polos, kelenjar).
a. Sistem saraf simphathis
Badan sel-sel pre-ganglionik terletak di tanduk lateralis materi abu medulla spinalis dari thorax 1 sampai lumbar 2 sehingga disebut juga sistem syaraf thoraco-lumbar, akson-aksonnya keluar bersamaan akar ventralis, menuju ke ramus communicans putih, kemudian berrsynaps dengan neuron post-ganglionik di ganglion simphathis. Ganglion-ganglion simphathis membentuk suatu untaian dikanan kiri columna vertebralis yang disebut truncus simphathicus. Pada setiap sisi terdapat 22 ganglion (3 cervix, 11 thorax, 4 lumbar, 4 sacral).
Dari ganglion-ganglion ini keluar serabut-serabut (akson) post-ganglionik yang membentuk plexus menuju organ-organ visceral yaitu otot-otot polos di dalam bola mata, kelenjar air mata, kelenjar ludah, jantung, paru-paru, usus, ginjal, kandung kemih, alat genitalia, dsb.
b. Sistem saraf parasimphathis
Disebut juga cranio-sacral katrena badan sel neuron preganglionik terletak pada batang otak dan tanduk lateral medulla spinalis sacral 2 sampai sacral 4. Untuk bagian cranial, 3 serabut preganglionik mengikuti syaraf-syaraf otak ke III, VII, IX, kemudian bersynaps dengan ganglion-ganglionya (ciliaris, pterigoplatin, submandibular,otic)
Keempat ganglion ini terletak dekat sekali dengan organ-organ yang diinervasinya (otot-otot polos, bola mata, kelenjar ludah), sedangkan 1 serabut preganglionik mengikuti syaraf otak ke X dan mempunyai distribusi yang sangat luas yaitu alat-alat dalam jantung, paru-paru, hati usus, dsb. Badan sel neuron-neiuron post-ganglionik membentuk ganglion-ganglion terminal dekat organ-organ yang disyarafinya.
Untuk bagian sacral serabut-serabut preganglionik keluar bersama-sama syaraf-syaraf spinal, kemudian bersynaps dengan ganglion-ganglion terminal dan serabut-serabut post-ganglionik mensyarafi usus besar dan alat-alat genitalia.
Semoga bermanfaat.

Jumat, 28 Januari 2011

Pernapasan Buatan dan Pemijatan Jantung

0 komentar

Setiap saat sistem pernapasan dan system sirkulasi darah harus selalu dapat berfungsi secara baik untuk menyuplai oksigen yang memadai keseluruh jaringan tubuh.pada kasus-kasus tertentu misalnya keracunan gas CO, keracunan obat-obatan, tenggelam, tersambar petir, tersengat listrik, tercekik, serangan jantung dan sebagainya, sering terjadi sistem pernapasan dan sirkulasi terhenti fungsinya. Ini merupakan kasus darurat yang harus segera ditolong paling lambat dalam waktu 5 menit setelah kecelakaan terjadi; lebih cepat lebih baik karena terlambat berarti kerusakan jaringan dankematian
Pertolongannya berupa pernapasan buatan jika pernapasan berhenti, pemijatan jantung bila jantungberhenti berdenyut. Pertolongan bisa dilakukan di tempat kejadian sambil diupayakan untuk membawa korban kerumah sakit.
Tindakan pertolongan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Langkah pertama adalah dengan membuka jalan nafas ke paru-paru korban (airway). Korban dibaringkan terlentang, penolong berada disampingnya. Bila penolong berada disebelah kanan maka dengan telapak tangan leher korban diangkat keatas sehingga dagu penderita tegak keatas, posisi ini akan membuka saluran pernapasan korban.
2. Langkah kedua adalah melakukan pernapasan buatan(brething) dengan tujuan memasukkan udara ke paru-paru. Prosedur ini dilakukan bila korban tidak dapat bernafas spontan meskipun jalan nafas telah terbuka. Pertama-tama akan dijelaskan pernapasan buatan mulut ke mulut. Cara ini paling dianjurkan karena terbukti paling paling efektif. Penolong menarik nafas dalam-dalam, lalu lekatkan mulut penolong pada mulut korban, hidung korban dijepit erat-erat diantara ibu jari dan telunjuk kiri penolong. hembuskan udara ekspirasi ke mulut korban agak kuat sehingga terlihat dada korban naik karena terisi udara. Kemudian penolong melepaskan mulutnya dan membiarkan korban mengeluarkan nafas secara pasif.ulangi usaha diatas 12 kali/menit, untuk korban anak-anak berikanlah hembusan udara yang sedikit lebih lembut dengan frekuensi 20 kali/menit. Walaupun yang masuk kedalam paru-paru korban adalah udara ekspirasi, tetapi masih mengandung 16% O2 dan 4,5% CO2 sehingga masih mengandung cukum oksigen untuk jaringan tubuh korban.
3. Langkah ketiga adalah melakukan pemijatan jantung dengan tujuan untuk melancarkan peredaran darah korban. Prosedur ini dilakukan bila jantung korban berhenti berdenyut. Hal ini dapat diketahui dengan meraba denyut nadi di arteri carotic leher korban. Bila denyut nadi maka harus segera dilakukan pemijatan jantung untuk melancarkan sirkulasi darah korban.
Letakkan pangkal telapak tangan pada bagian bawah tulang dada (sternum) korban, tetapi jangan diatas prosessus xiphoideus. Telapak tangan kiri penolong diletakkan diatas punggung tangan kanan tadi. Tekankan dada korban kebawah dengan kuat tetapi halus sejauh 3cm kemudian lepaskan lagi dengan frekuensi 60 kali/menit. Prosedur ini akan memeras jantung korban dan menghasilkan sirkulasi darah buatan. Bila dilakukan secara benar akan menghasilkan tekanan sistolis sebesar 95 mmHg dan sirkulasi darah ke otak dapat mencapai 40% dari keadaan normal. INGAT penekanan harus dilakukan ketulang dada, bukan ke prosessus xiphoxideus atau ke tulang iga. Penekanan ke prosessus xiphoxideus dapat menyebabkan tertusuknya hati, sedangkan penekanan ketulang iga dapat menyebabkan patah tulang iga.
Semoga Membantu

Sabtu, 31 Juli 2010

Insulin

0 komentar

Insulin adalah hormon yang mengendalikan gula darah. Tubuh menyerap mayoritas karohidrat sebagai glukosa (gula darah). Dengan meningkatnya gula darah setelah makan, pankreas melepaskan Insulin yang membantu membawa gula darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai bahan bakar atau disimpan sebagai lemak apabila kelebihan. Tampa bantuan hormone, kadar gula darah akan mengalami fluktuasi yang besar. Kadar gula darah akan segera meningkat sesudah makan, dan sebaliknya jika tidak ada asupan makanan pada priode tertentu, kadar gula darah akan turun sangat rendah. Untuk mencegah terjadinya fluktuasi yang membahayakan tubuh akan meregulasi glukosa darah dengan menggunakan hormone insulin. Hormone insulin disekresikan oleh sel-sel beta pancreas apabila kadar gula darah meninggi (hiperglikemia), yang biasanya terjadi sesudah makan. Peningkatan kadar gula darah ini akan merangsang sekresi insulin dari sel-sel β pulau langerhans pancreas. Sekresi insulin ini berlangsung dalam dua fase, pada fase pertama kadar insulin melonjak tinggi seketika. Hal ini terjadi 10 menit setelah kenaikan kadar gula darah, karena ada simpanan insulin dalam granula. Kemudian terjadi fase kedua yang bersifat lambat berlangsung selama lebih dari 10 menit sampai 2 jam. Dalam jam pertama seseudah makan, gula darah meningkat sampai 160 mg%, dan kemudian menurun lagi berkat pengaruh insulin, sehingga 2 jam sesudah makan kadar gula darah normal kembali yakni 160 mg%. insulin akan merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan dan kemudian memecahnya menjadi energi, penyimpanan dalam bentukglikogen dan mengubahnya lemak. Dengan proses tersebut kadar gula darah akan menurun dan kembali normal. Sebaliknya bila kadar gula darah rendah, hormone glukagen yang dihasilkan sel-sel α pancreas akan menstimulasi sintesa glukosa dari asam amino yang mengebabkan terlepasnya glikogen dari hepar, yang akan meningkatkan kadar gula darah. Jadi aktivitas hormone insulin dan glikagon berlawanan satu sama lain

Senin, 26 Oktober 2009

Latest analysis confirms suboptimal vitamin D levels in millions of US children

0 komentar
Boston, Mass. -- Millions of children in the United States between the ages of 1 and 11 may suffer from suboptimal levels of vitamin D, according to a large nationally representative study published in the November issue of Pediatrics, accompanied by an editorial.
The study, led by Jonathan Mansbach, MD, at Children's Hospital Boston, is the most up-to-date analysis of vitamin D levels in U.S. children. It builds on the growing evidence that levels have fallen below what's considered healthy, and that black and Hispanic children are at particularly high risk.
Both the optimal amount of vitamin D supplementation and the healthy blood level of vitamin D are under heated debate in the medical community. Currently, the American Academy of Pediatrics recommends children should have vitamin D levels of at least 50 nmol/L (20 ng/ml). However, other studies in adults suggest that vitamin D levels should be at least 75 nmol/L (30 ng/ml), and possibly 100 nmol/L (40 ng/ml), to lower the risk of heart disease and specific cancers.
Mansbach and collaborators from the University of Colorado Denver and Massachusetts General Hospital used data from the National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) to look at vitamin D levels in a nationally representative sample of roughly 5,000 children from 2001-2006. Extrapolating to the entire U.S. population, their analysis suggests that roughly 20 percent of all children fell below the recommended 50 nmol/L. Moreover, more than two-thirds of all children had levels below 75 nmol/L, including 80 percent of Hispanic children and 92 percent of non-Hispanic black children.
"If 75 nmol/L or higher is eventually demonstrated to be the healthy normal level of vitamin D, then there is much more vitamin D deficiency in the U.S. than people realize," Mansbach says.
Mansbach and his co-authors suggest that all children take vitamin D supplements, because of the generally low level

Probiotic found to be effective treatment for colitis in mice

0 komentar
BETHESDA, Md. (Oct. 26, 2009) The probiotic, Bacillus polyfermenticus, can help mice recover from colitis, a new study has found. Mice treated with B. polyfermenticus during the non-inflammatory period of the disease had reduced rectal bleeding, their tissues were less inflamed and they gained more weight than mice that did not receive the treatment.
Colitis is a disease in which the inner tissue of the colon, the mucosa, becomes inflamed and damaged and can result in painful sores. Ulcerative colitis and Crohn's disease are the two major types of Inflammatory Bowel Disease (IBD). It is not yet known what causes the diseases, but both are believed to be the result of altered intestinal immune responses in genetically predisposed individuals.
A probiotic is a live microorganism -- in this case, a bacterium -- that benefits its host. B. polyfermenticus is available in Japan and Korea to treat intestinal disorders such as diarrhea and constipation. The bacterium is quite hardy and can survive the hostile environment of the stomach and intestine.
The study not only provided evidence of B. polyfermenticus' usefulness in treating colitis during the non-inflammatory phase, but also showed that it works by healing intestinal wounds more quickly by encouraging the growth of new blood vessels, a process known as angiogenesis.
The study, "The angiogenic effect of probiotic Bacillus polyfermenticus on human intestinal microvascular endothelial cells is mediated by IL-8," appears in the online edition of the American Journal of Physiology Gastrointestinal and Liver Physiology. The authors are Eunok Im, Yoon Jeong Choi, Cho Hee Kim, Charalabos Pothoulakis and Sang Hoon Rhee, all of the David Geffen School of Medicine, University of California at Los Angeles and Claudio Fiocchi, of the Cleveland Clinic Foundation Lerner Research Institute, Cleveland. The American Physiological Society
tidak menemukan yang anda cari? coba pencarian google!